Bahasa Dakwah sebagai Instrumen Pencerahan: Kesiapan Intelektual dan Spiritual Muballigh Menyongsong Ramadhan
Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau
Ramadhan adalah ruang pendidikan ruhani yang paling intens dalam kehidupan umat Islam. Ia bukan sekadar bulan ibadah ritual, melainkan madrasah peradaban yang membentuk disiplin diri, kejernihan akal, dan kelembutan hati. Dalam momentum sakral ini, muballigh memikul tanggung jawab strategis: menghidupkan kesadaran kolektif melalui pesan-pesan yang mencerahkan. Tugas tersebut menuntut lebih dari sekadar penguasaan materi keagamaan; ia meniscayakan kematangan bahasa sebagai instrumen pencerahan.
Bahasa dalam dakwah bukan hanya sarana penyampai informasi, melainkan medium pembentuk makna dan arah pikir. Melalui bahasa, nilai-nilai Qur’ani ditafsirkan, ajaran profetik dikontekstualisasikan, dan problematika umat didekati secara argumentatif. Karena itu, kesiapan seorang muballigh menyongsong Ramadhan harus mencakup kesiapan linguistik: ketepatan diksi, kejernihan struktur kalimat, kekuatan argumentasi, serta kepekaan terhadap kondisi psikologis jamaah.
Ramadhan menghadirkan spektrum audiens yang luas—dari mereka yang matang secara spiritual hingga mereka yang masih mencari arah. Bahasa dakwah yang bermutu tinggi adalah bahasa yang inklusif dan dialogis. Ia tidak berhenti pada nada instruktif, tetapi membuka ruang refleksi. Ia tidak mengedepankan penghakiman, melainkan menghadirkan pemahaman. Di sinilah pentingnya retorika yang berimbang antara kedalaman nalar dan sentuhan emosional. Dakwah yang hanya menekankan ancaman tanpa harapan berpotensi melahirkan kelelahan batin; sebaliknya, dakwah yang menghadirkan optimisme akan menumbuhkan energi perubahan.
Kualitas bahasa juga tercermin dalam kemampuan menyusun narasi yang sistematis dan terukur. Ceramah Ramadhan yang efektif memiliki alur yang jelas: pengantar yang menggugah, uraian dalil yang argumentatif, analisis kontekstual yang relevan, dan penutup yang aplikatif. Struktur yang runtut bukan sekadar soal teknis, melainkan cerminan kedisiplinan berpikir. Bahasa yang tertata rapi akan memudahkan jamaah memahami, mengingat, dan mengamalkan pesan.
Di era digital, tantangan muballigh semakin kompleks. Potongan ceramah dapat tersebar luas tanpa konteks utuh. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam memilih kata menjadi bagian dari etika dakwah. Setiap kalimat harus dipertimbangkan dari sisi makna, dampak, dan akurasi. Bahasa yang ambigu dapat menimbulkan salah tafsir; bahasa yang emosional tanpa kendali dapat memicu polemik. Profesionalitas muballigh tercermin dari kemampuannya menjaga integritas pesan di tengah derasnya arus informasi.
Lebih jauh, bahasa dakwah yang berkualitas lahir dari kedalaman spiritual. Keindahan retorika tidak akan bermakna tanpa ketulusan niat. Ketika kata-kata keluar dari hati yang jernih, ia akan menemukan jalannya menuju hati pendengar. Ramadhan menuntut muballigh tidak hanya berbicara tentang kesabaran, tetapi juga mempraktikkannya; tidak hanya menyeru pada kejujuran, tetapi juga meneladankannya. Bahasa menjadi kuat ketika ia selaras dengan laku hidup.
Pada akhirnya, menyongsong Ramadhan berarti menyiapkan diri secara utuh—ilmu, akhlak, dan bahasa. Muballigh yang membekali dirinya dengan kecakapan linguistik dan kematangan spiritual akan mampu menjadikan mimbar sebagai ruang transformasi. Melalui bahasa yang jernih, santun, dan argumentatif, pesan-pesan Ramadhan tidak hanya terdengar, tetapi bersemi dalam kesadaran umat. Di situlah dakwah menemukan makna tertingginya: menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar suara yang berlalu.


