Bogor,beritarepublik-viral.com
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Paledang, Kota Bogor, menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung kebijakan nasional melalui pemanfaatan lahan tidur menjadi sarana produktif dalam Program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Program yang digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS) ini diwujudkan dalam pengembangan peternakan ayam petelur berkapasitas 1.300 ekor, sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional.
Di bawah kepemimpinan Kepala Lapas Paledang Raden Budiman Priyatna Kusumah, program SAE tidak hanya berorientasi pada hasil produksi pangan, tetapi juga menjadi instrumen pembinaan yang berkelanjutan bagi warga binaan. Lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini menjadi pusat kegiatan edukatif dan produktif, sekaligus mencerminkan transformasi pemasyarakatan yang humanis dan berorientasi masa depan.
Keterlibatan langsung warga binaan dalam pengelolaan peternakan ayam petelur menjadi nilai tambah utama program ini. Selain memperoleh keterampilan teknis beternak, mereka juga dibekali pemahaman manajemen usaha, kedisiplinan kerja, serta tanggung jawab kolektif.
“Program SAE ini memberi kami kepercayaan dan kesempatan untuk belajar. Tidak hanya soal beternak, tetapi juga tentang kerja sama, manajemen, dan kesiapan hidup mandiri setelah kembali ke masyarakat,” ungkap salah satu warga binaan yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Paledang, Muhammad Yuda Triwangga, menegaskan bahwa optimalisasi lahan tidur merupakan bentuk konkret pengelolaan aset negara yang berdampak langsung bagi pembinaan warga binaan dan masyarakat luas.
“Ini adalah asimilasi nyata. Warga binaan dilibatkan dari hulu ke hilir, mulai dari perawatan, produksi, hingga pengelolaan. Program ini sejalan dengan arahan pimpinan dan kebijakan Kementerian IMIPAS yang mendorong lapas menjadi ruang pembinaan produktif,” jelas Yuda, Senin 9/2/2026
Keberhasilan pelaksanaan program SAE di Lapas Paledang tidak lepas dari komitmen dan dukungan penuh Kepala Lapas yang secara konsisten mendorong inovasi pembinaan berbasis produktivitas. Kepemimpinan Kalapas dinilai berhasil menerjemahkan kebijakan kementerian ke dalam program konkret yang berdampak langsung.
Langkah ini sejalan dengan paradigma baru pemasyarakatan yang menempatkan lapas bukan sekadar tempat menjalani pidana, melainkan sebagai institusi pembinaan manusia seutuhnya. Program SAE menjadi bukti bahwa lapas dapat menjadi bagian dari solusi strategis nasional, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.
Ke depan, keberhasilan Lapas Paledang diharapkan dapat menjadi contoh bagi lapas dan rutan lain di Indonesia dalam mengoptimalkan lahan tidur sebagai penyangga pangan alternatif sekaligus sarana pemberdayaan warga binaan.
Dengan inovasi dan kepemimpinan yang progresif, Lapas Paledang menegaskan komitmennya sebagai garda depan pelaksanaan program Kementerian IMIPAS yang produktif, humanis, dan berorientasi pada masa depan bangsa.(Bambang Saputro,ST.,Gr/jurnalis)



