MENYUSURI JEJAK SEJARAH SUKU DAYAK GAAI DIBALIK UPAYA MELESTARIKAN BUDAYA YANG MAKIN LANGKAH

MENYUSURI JEJAK SEJARAH SUKU DAYAK GAAI DIBALIK UPAYA MELESTARIKAN BUDAYA YANG MAKIN LANGKAH

Berita Republik Viral

Kampung Lesan Dayak Kabupaten Berau Kalimantan Timur.

Di tengah hamparan hutan hijau yang menjulang tinggi di tepian Sungai Kelay, menyimpan sebuah cerita panjang tentang perjuangan dan berkelanjutan sebuah komunitas yang telah hidup berdampingan dengan alam selama ribuan tahun. Suku Gaai, yang kini menjadikan Kampung Lesan Dayak sebagai salah satu rumah mereka, menyimpan kisah migrasi yang penuh liku – liku dari kebakaran kerajaan kuno hingga penemuan tanah yang menjadi tempat mereka berakar hingga saat ini.

Menurut penuturan leluhur yang diteruskan secara lisan dari satu generasi ke generasi, Suku Dayak Gaai awalnya berasal dari Kung Kemul, sebuah kawasan di hulu Sungai Kelay yang dianggap sebagai pusat peradaban mereka kala itu. Pada masa kejayaan Kerajaan Gaai, mereka menetap di sebuah pemukiman besar bernama Long Em Leang ( Meraang ). Dimana kehidupan berjalan damai dengan mengandalkan hasil bumi dan sungai.

Namun sekitar abad ke 17, bencana tak terduga menghantui kerajaan tersebut. Sebuah kebakaran besar yang menyambar hampir seluruh pemukiman yang diikuti oleh wabah penyakit yang membuat banyak orang meninggal dunia. Kondisi yang semakin sulit membuat Raja dan para pemimpin adat memutuskan untuk membagi komunitas menjadi dua kelompok, agar dapat mencari tempat tinggal baru yang lebih aman dan subur.

Kelompok pertama yang dipimpin langsung oleh Raja saat itu memilih mengikuti aliran Sungai Kelay ke arah Utara hingga akhirnya menemukan kawasan yang sekarang dikenal sebagai Kampung Tumbit Dayak ( Kecamatan Sambaliung ). Di sana mereka membangun pemukiman baru dan mulai membangun kehidupan dari awal dengan membuka lahan pertanian dan membangun rumah – rumah panggung khas Dayak.

Sementara itu, kelompok kedua yang di pimpin oleh pemuda berbakat bernama Raja Ping Lawung memilih mengarungi jalur yang berbeda, menuju daerah yang kemudian di sebut Tanah Merah. Namun setelah beberapa tahun tinggal di Tanah Merah, mereka merasa perlu mencari tempat yang lebih cocok untuk berkembang. Dalam perjalanan mencari tahah baru, mereka menemukan sebuah kawasan yang dikelilingi oleh pepohonan besar dengan salah satu pohon beringin yang sangat rindang yang mereka sebut Elnuk  dalam bahasa Gaai berarti ” tempat berlindung “. Dari situlah nama Long Lanuk muncul sebagai nama pemukiman baru mereka.

Raja Ping Lawung adalah sosok yang sangat baik. Dia selalu mencari yang terbaik untuk rakyatnya. Saat menemukan pohon beringin, Raja Ping Lawung berkata ” Disinilah kita akan tinggal, karena alam telah memberi kita tempat yang aman “.

Seiring berjalannya waktu, sebagian anggota suku Gaai dari Tumbit Dayak dan Long Lanuk mulai menyebar ke wilayah sekitar termasuk ke Kampung Lesan Dayak. Alasan mereka berpindah beragam mulai dari mencari lahan pertanian yang lebih luas, menjalin hubungan dagang dengan suku Berau yang telah beragama Islam hingga perkawinan antar suku yang mempererat hubungan.

Di Lesan Dayak, mereka tidak hanya membangun rumah tinggal, namun juga memperkuat hubungan dengan suku lain seperti Dayak Tunjung dan Masyarakat Melayu Berau. Meskipun bahasa dan agama mulai berbaur, sebagian besar kini menggunakan Bahasa Berau dan Bahasa Indonesia serta memeluk agama kristen atau Islam namun mereka tetap memegang teguh nilai – nilai budaya leluhur.

Sampai saat ini, tidak ada catatan tertulis yang menjelaskan secara pasti makna atau asal usul nama ” Gaai “. Namun menurut tradisi yang di wariskan, ada beberapa kemungkinan asal – usul nama tersebut pertama,  nama ” Gaai ” berasal dari kata dalam bahasa mereka sendiri yang berarti ” tempat berkumpul ” atau ” komunitas yang erat ” yang menggambarkan sifat masyarakat mereka yang selalu hidup berdampingan dan saling membantu. nama tersebut juga dipercaya berasal dari nama sungai kecil di wilayah asal mereka di Kung Kemul yang menjadi sumber kehidupan bagi leluhur.

Kedua,  ada juga yang mengatakan bahwa nama ” Gaai ” merupakan bentuk modifikasi dari kata ” Segai ” yang merujuk pada Sungai Segah dimana sebagian kelompok mereka menetap. Hal ini membuat sebagian orang juga menyebut mereka sebagai Suku Dayak Segai. Meskipun secara etnis mereka tetap satu kelompok dengan Suku Gaai.

Di era modern, Suku Gaai menghadapi berbagai tantangan dalam melestarikan budaya mereka. Banyak generasi muda yang memilih bekerja di kota besar, sehingga kurang mengenal tradisi dan bahasa leluhur. Selain itu perubahan lingkungan akibat aktivitas pembangunan juga mengancam sumber daya alam yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Namun, masyarakat Suku Gaai tidak tinggal diam. Mereka telah membentuk kelompok pelestari budaya. Mengadakan jelas belajar bahasa Gaai untuk anak – anak dan menggelar acara budaya tahunan seperti Gawai Dayak dan Peringatan Hari Jadi Kampung Lesan Dayak yang menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan mengenalkan budaya mereka kepada masyarakat luas.

Pada akhir tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Berau telah mengakui Kampung Lesan Dayak sebagai Kampung Wisata Budaya yang di harapkan dapat membantu melestarikan budaya Suku Gaai sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

SEJARAH YANG HIDUP DALAM SETIAP JELAJA

Dari kebakaran kerajaan kuno hingga menjadi bagian dari Kampung Wisata Budaya, perjalanan Suku Dayak Gaai adalah bukti kekuatan dan ketahanan sebuah komunitas yang tidak pernah melupakan akar mereka. Meskipun waktu telah membawa banyak perubahan, nilai – nilai gotong royong , penghormatan kepada alam dan cinta akan tanah air tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Suku Gaai.

Disetiap jelaja ( anyaman bambu ) yang dibuat, setiap tarian tradisional yang dipertunjukkan dan setiap kata dalam bahasa Gaai yang diucapkan, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan dan keberlanjutan yang akan diteruskan kepada generasi mendatang.

 

Penulis, Aroel mandang