SUKU PUNAN BATU BERAU MENJAGA JEJAK TRADISI DI TENGAH GELOMBANG MODERNISASI

SUKU PUNAN BATU BERAU MENJAGA JEJAK TRADISI DI TENGAH GELOMBANG MODERNISASI

Berita Republik Viral

Di tengah hamparan hutan hujan tropis dan bentang alam karst yang memesona di Kabupaten Berau, terdapat komunitas Suku Punan Batu yang masih gigih menjaga gaya hidup dan budaya leluhur mereka, menjadi salah satu warisan budaya paling unik di Indonesia.

Sebagian besar anggota suku ini masih tinggal di gua – gua kawasan Gunung Batu Benau, yang menjadi tempat tinggal sekaligus pusat aktivitas budaya mereka. Tidak hanya sebagai tempat berlindung, gua – gua tersebut juga menyimpan makna spiritual yang dalam, dimana mereka menghayati keberadaan Tuhan dengan sebutan ” Latala “.

Berdasarkan penelitian genetika, Suku Punan Batu, merupakan keturunan langsung dari leluhur tua di Kalimantan  yang telah ada sejak sekitar 7.500 tahun yang lalu. Mereka tidak memiliki campuran genetika dengan nenek moyang Austronesia yang datang dari Taiwan sekitar 4000 – 5000 tahun lalu dan membawa budaya agrikultur. Leluhur mereka diperkirakan berasal dari Asia Daratan, berbagi akar dengan orang asli Malaysia dan bahkan orang Andaman yang bermigrasi dari Afrika puluhan ribu tahun lalu, serta mendapat campuran genetik dari leluhur Pra – Austronesia di Asia Timur.

Suku Punan Batu berasal dari Negeri Yunan, Daratan Cina dan datang ke Kalimantan setelah kerajaan mereka kalah dalam perang, lalu menetap karena merasa aman.

Perbedaan dengan Suku Dayak lainnya, yang hidup dengan tradisi berladang dan memiliki genetika Austronesia, Suku Punan Batu adalah kelompok pemburu-peramu nomaden terakhir di Kalimantan yang masih mempertahankan cara hidup leluhur.

SEJARAH SUKU PUNAN BATU DI BERAU.

Suku Punan Batu tinggal dipedalaman hutan Gunung Batu Benau. Sebagian wilayahnya masuk ke Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sedangkan sebagian besar berada di Kabupaten Bulungan , Kalimantan Utara. Mereka hidup berpindah dari satu gua karst ke gua lainnya dan bergantung pada sumber daya alam dengan berburu, mengumpulkan ubi hutan, buah – buahan, meramu tanaman obat serta memanen madu liar.

Keberadaan Suku Punan Batu erat kaitannya dengan kelestarian hutan. Namun, saat ini mereka menghadapi ancaman dari aktivitas penebangan hutan dan perluasan kelapa sawit.

Beberapa literatur menyebut mereka sebagai kelompok yang hidup dengan cara manusia prasejarah, yakni berburu dan meramu didalam hutan serta hidup secara nomaden berpindah dari satu gua ke gua lainnya. Mereka juga memiliki DNA yang sangat tua dan bahasa kuno, serta tidak pernah mencatat tanggal kelahiran dan tidak memeluk agama formal melainkan menghayati keberadaan Tuhan dengan  sebutan ” Latala ). Suku Punan Batu memiliki sistim nilai pengetahuan tentang alam dan budaya yang kaya serta kompleks sesuai dengan konteks kehidupan mereka.

Suku Punan Batu menggunakan bahasa Latala ( juga disebut bahasa lagu ) dalam berkomunikasi antar sesama mereka, yang tidak memiliki hubungan linguistik dengan bahasa lain di Kalimantan dan merupakan bagian penting dari identitas budaya mereka. Bahasa ini memiliki ciri khas seperti penggunaan nada yang bervariasi ( dinyanyikan ), pengulangan kata atau frasa serta penggunaan metafora yang mencerminkan pengetahuan mereka tentang alam.

Sayangnya bahasa Latela kini terancam punah karena hanya dituturkan oleh generasi tua, sementara generasi muda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dan sebagian individu juga dapat berbahasa Melayu akibat kontak dengan masyarakat sekitar. Selain itu mereka juga memiliki cara unik berkomunikasi melalui pesan ranting dan daun untuk menyampaikan informasi seperti arah, jarak atau peringatan tertentu.

Suku Punan Batu memiliki alat tradisional khas. Mereka kini mulai menarik perhatian peneliti dan pelancong budaya. Antara lain Kaleho ( alat musik tiup bambu, Saridap ( payung daun Apouw ) dan Salayu ( baju dari kulit kayu Kumut ). Bahkan senjata tradisional seperti Sumpitan dan Mandau Keramat tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari – hari, tetapi juga menjadi bagian dari pameran budaya lokal.

Salah satu nilai utama yang dijunjung tinggi suku Punan Batu adalah hidup dalam harmoni dengan alam. Mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang keanekaragaman hayati hutan, termasuk jenis tanaman obat dan cara berburu yang lestari.

 

Aroel Mandang