KESULTANAN SAMBALIUNG BERAU : DARI PERPECAHAN KESULTANAN LAMA HINGGA WARISAN BUDAYA YANG ABADI

KESULTANAN SAMBALIUNG BERAU : DARI PERPECAHAN KESULTANAN LAMA HINGGA WARISAN BUDAYA YANG ABADI

Berita Republik – Viral, Di tengah hamparan hutan tropis dan sungai yang mengalir deras di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, bersemayam jejak sebuah kerajaan yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, perpecahan dan warisan budaya yang tetap hidup hingga kini. Kesultanan Sambaliung yang lahir dari pembelahan Kesultanan Berau yang telah berdiri sejak abad ke – 14, bukan hanya menjadi bagian sejarah, melainkan juga jembatan penghubung masa lalu dan masa kini masyarakat Berau.

Kisah Kesultanan Sambaliung tak dapat dipisahkan dari Kesultanan Berau yang didirikan oleh Aji Suryanata Kesuma ( juga dikenal sebagai Baddit di Pattung ) pada abad ke- 14. Raja pertama ini membawa kemakmuran bagi wilayah Berau dengan mengembangkan perdagangan hasil hutan seperti kayu Ulin, damar dan hasil laut.

Seiring berjalannya waktu, Kesultanan Berau tumbuh menjadi kekuatan penting di Pantai Timur Kalimantan dengan jaringan perdagangan yang menjangkau Kawasan Sulawesi dan Maluku.

Pada generasi ke- 9, kepemimpinan jatuh ke tangan Aji Dilayas, yang memiliki dua putra dari istri berbeda. Pangeran Tua dan Pangeran Dipati. Untuk menghindari perebutan tahta yang sering terjadi di kerajaan – kerajaan Nusantara, kedua putra sepakat menerapkan sistem kepemimpinan bergantian. Namun seiring waktu mulai menunjukan celah, perbedaan pandangan dalam mengelola wilayah, pembagian kekayaan dan kebijakan luar negeri membuat ketegangan antar keturunan semakin memanas.

Pad beberapa kesempatan, aturan suksesi bahkan dilanggar. Salah satu insiden krusial terjadi ketika Pangeran Dipati mengangkat putra mahkota dari istri kedua menjadi raja sebelum giliran putra mahkota dari istri pertama. Hal ini membuat pihak keturunan Pangeran Tua merasa dirugikan dan memperparah jurang perbedaan yang sudah ada.

 

PERPECAHAN DAN LAHIRNYA KESULTANAN SAMBALIUNG

Pada awal abad ke- 19, kedatangan Kompagnie Van Oost-Indie ( VOC ) dari Belanda membawa perubahan besar bagi Kesultanan Berau. Dengan kedok memperluas jaringan perdagangan, Belanda menerapkan strategi Devide et Impera yang sengaja memperbesar konflik internal untuk melemahkan kekuatan kerajaan lokal.

Sekitar tahun 1810, konflik yang telah lama menumpuk akhirnya meledak. Raja Alam cucu Sultan Hasanuddin dan cicit Pangeran Tua (  generasi ke 13 dari Aji Suryanata Kesuma ) memutuskan untuk membentuk kerajaan baru setelah merasa tidak lagi dapat bekerja sama dengan pihak keturunan Pangeran Dipati. Raja Alam mendirikan ibu kota kerajaan di kawasan Tanjung dengan memberikan nama awal Kerajaan Tanjung. Beberapa tahun kemudian, nama diubah menjadi Batu Putih sebelum secara resmi diberi nama Sambaliung pada tahun 1849.

Nama ” Sambaliung ” memiliki makn yang dalam. Berasal dari kata ” Samba ” yang berarti ” Sembah ” dan ” Liung ” yang berarti ” tinggi “, sehingga secara harfiah bermakna ” menyembah yang maha tinggi ” sesuai dengan prinsip agama Islam yang kemudian dijadikan agama resmi kerajaan. Sementara itu, pihak keturunan Pangeran Dipati mendirikan Kesultanan Gunung Tabur denganwilayah di Utara Sungai Berau, menjadikan Sungai Segah sebagai batas alamiah antara kedua kerajaan.

Wilayah Kesultanan Sambaliung saat ini mencakup Kawasan Selatan Sungai Berau hingga sekitar Sungai Kelay, berbatasan dengan Laut Sulawesi di Timur Laut, Kerajaan Kutai Kartanegara di Selatan dan Kesultanan Bulungan di Barat. Raja Alam sendiri kemudian dikenal dengan gelar Sultan Alimuddin dan menjadi sosok yang di hormati sebagai pejuang yang gigih melawan upaya penjajahan Belanda untuk menguasai sepenuhnya wilayahnya.

Setelah wafatnya Raja Alam pada Tahun 1844, Kesultanan Sambaliung diteruskan oleh sejumlah sultan yang masing – masing memberikan kontribusi dalam mengembangkan kerajaan :

1. Sultan Kaharuddin ( Raja Bungkoh ) 1844 – 1848. Memperkuat pertahanan wilayah dan memperluas jaringan perdagangan dengan daerah – daerah sekitar.

2. Sultan Hadi Jalaluddin 1848 – 1850, mengembangkan infrastruktur dasar seperti jalan dan dermaga untuk mempermudah distribusi barang dagangan.

3. Sultan Asyik Syarifuddin 1850 – 1863, mendorong penyebaran ajaran Islam melalui kedatangan ulama dari kawasan Sambuyan, dengan pusat pengajaran di Desa Sukan.

4. Sultan Salehuddin 1863 – 1869, mengatur sistim pemerintahan yang lebih terstruktur dan menetapkan peraturan yang mengatur hubungan antar masyarakat.

5. Sultan Adil Jalaluddin 1869 – 1881, menginisiasi pembagunan keraton baru yang megah dari kayu Ulin berkualitas tinggi.

6. Sultan Bayanuddin 1881 – 1902, menjaga stabilitas kerajaan di tengah tekanan kolonial Belanda yang semakin kuat.

7. Sultan Muhammad Aminuddin 1902 – 1960. Raja terakhir yang memimpin hingga sistim Swapraja dihapuskan, dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Pada tahun 1837, Kesultanan Sambaliung secara tidak sengaja menjadi protektorat Belanda setelah perjanjian yang dirasa tidak adil ditandatangani. Namun meskipun berada di bawah pengaruh kolonial, kerajaan tetap berhasil mempertahankan identitas budaya dan tradisi lokalnya.

 

WARISAN BUDAYA YANG TETAP HIDUP.

Meskipun Kerajaan Sambaliung resmi dihapuskan pada tahun 1969 dan wilayahnya digabung dengan Kesultanan Gunung Tabur untuk membentuk Kabupaten Berau, warisan budayanya tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Berau.

 

Arsitektur dan Peninggalan  Bersejarah

Keraton Sambaliung yang dibangun tahun 1881 menjadi bukti nyata kemegahan kerajaan. Dibangun dari kayu Ulin yang tahan terhadap cuaca dan serangga, keraton menggabungkan gaya arsitektur tradisional Kalimantan, elemen Islam dan sedikit sentuhan pengaruh Tionghoa serta kolonial. Ruang utama keraton dulunya digunakan untuk pertemuan adat dan upacara penting. Kini telah diubah menjadi museum yang menyimpan berbagai benda pusaka Seperti tombak, keris, perhiasan kerajaan dan prasasti kayu Ulin bertuliskan aksara Arab – Melayu serta Bugis.

 

Adat Istiadat dan Nilai Budaya

Kesultanan Sambaliung dikenal dengan prinsip Kesetaraan Gender yang jauh lebih maju dibandingkan zamannya. Hal ini terbukti dari prasasti bertuliskan ” larangan menghalangi atau memotong jalan perempuan ), bahkan jika mereka adalah budak. Busana Adat khas kerajaan yaitu ” Ampik Salayang ” yang dikenakan pada upacara perkawinan kerajaan. Masih menjadi simbol keagungan budaya Berau dan sering diperagakan pada acara – acara penting. Selain itu warisan perawatan kecantikan tradisional dari keturunan putri kerajaan masih dilestarikan hingga kini. Ada tiga jenis lulur tradisional yang menjadi khas, lulur beras hitam lengket, lulur merah dari bahan alami dan lulur putih yang dipercaya dapat memberikan kesegaran pada kulit.

 

Agama dan Nilai Spiritual

Meskipun awalnya masyarakatnya menganut animisme, Islam Sunni yang kemudian menjadi agama resmi kerajaan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Agama Islam yang diajarkan tidak hanya fokus pada aspek ibadah, namun juga pada nilai – nilai kejujuran, kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama serta alam sekitar. Beberapa tempat ibadah tua yang dibangun pada masa kerajaan, masih di gunakan saat ini dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah agama di kawasan tersebut.

 

Nenek Moyang dari Suku Berau

Kerajaan Tanjung merupakan bagian dari perkembangan Kesultanan Berau yang didirikan oleh Aji Suryanata Kesuma ( Baddit di Pattung ) pada abad ke- 14. Ia berasal dari suku Berau, kelompok etnis asli pesisir timur kalimantan yang memiliki akar dari rumpun Melayu dan memiliki hubungan kultural dengan suku Tidung, Banjar, serta pengaruh dari Suku Dayak. Aji Suryanata Kesuma ( Baddit di Pattung ) berhasil menyatukan berbagai komunitas lokal bernama ” Banua ” seperti Banua Merancang, Banua Pantai dan Banua Kuran ) untuk membentuk Kerajaan Berau.

Awalnya kerajaan ini menganut paham Hindu – Buddha hingga abad ke 17, ketika masuknya ajaran Islam mengubahnya menjadi Kesultanan Berau. Seiring waktu, Kesultanan Berau tumbuh menjadi kekuatan penting dengan jaringan perdagangan yang menjangkau kawasan sekitarnya.

 

MASA LALU YANG MENGINSPIRASI MASA DEPAN

Kisah Kesultanan Sambaliung adalah bukti bahwa sejarah bukan hanya tentang perpecahan dan konflik, melainkan juga tentang keberanian membangun sesuatu yang baru dan ketekunan dalam melestarikan nilai – nilai budaya. Meskipun telah tidak ada lagi sebagai kekuasaan politik, warisan yang ditinggalkan oleh kerajaan ini terus menginspirasi masyarakat Berau untuk menjaga identitas lokalnya di tengah arus globalisasi.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Berau dan masyarakat lokal bekerja sama untuk melestarikan dan mempromosikan warisan Kesultanan Sambaliung sebagai bagian dari warisan budaya nasional Indonesia. Dari museum Keraton hingga pelestarian tradisi adat, setiap langkah yang diambil adalah bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membangun dasar kemajuan kawasan ini.

 

Penulis Aroel Mandang