Awal Tahun 2026, Dunia jadi heboh oleh serbuan militer Amerika Serikat (AS) ke negara Venezuela, negara bagian Latin dari wilayah peta Amerika dan bertetangga dengan Kuba, dengan penangkapan Nicolas Maduro, presiden Venezuela, di Ibukotanya Caracas.AS menunjukan superhero dalam konteks global. Implikasi dunia tentang kejadian tentu beragam.Negara sekutunya Korea Utara Koh Kim, sebutan presiden Kim Jong Un pun berang, dia siap membebaskan koleganya itu dan akan turut ambil bagian militer nantinya, kalau AS tetap berkeras menghukum, Maduro.Vladimir Putin juga bereaksi keras, dengan menganggap AS, memantik sumbu perang baru, selain terlibat di Ukraina sebagai musuh juga menjadikan suasana global makin panas. China sekutu Rusia diam-diam ikut bermain di dalamnya.
Geopolitik global Indonesia, ingin memainkan peran strategis mutlak ikut sebagai penengah, kebijakan luar negerinya. Selama ini Presiden Prabowo proaktif dalam konteks perdamaian global seperti ikut mendukung kemerdekaan Palestina, dan menyuarakan perdamaian Timur Tengah dengan Israel yang tengah berseteru dengan lran dan beberapa negara yang berperang dengan Israel, seperti Yaman dan Suriah.
Indonesia negara besar tetap menjunjung politik pertahanan bebas aktif dalam kebijakan luar negeri. Walaupun demikian urusan perdamaian dunia tentu perlu memberikan inspirasi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar memberikan suara berpihak pada kedaulatan sebuah negara dengan dalih bahwa Venezuela adalah negara berdaulat di bawah PBB. Urusan AS menyerbu dengan alasan menangkap teroris Maduro, atau ada Udang dibalik batu, ingin menguasai minyak dan Emas Negara Maduro, yang dijadikan dalil Donald Trump secara tersirat, tidak bisa dipungkiri.
Blak-blakan tuduhan AS itu juga teroris, yang menurut Korut, jadi pemantik awal perang baru, yang bisa berujung perang nuklir (Dunia ke-3). Bagi negara kolega karib Venezuela, lainnya, tindakan AS sebagai aksi berlebihan, yang juga tidak lebih sebagai ambisi keserakahan negara itu, adidaya.
Indonesia bisa menyuarakan corong perdamaian bagi AS dengan solusi bahwa bukan tindakan militer yang dilakukan melainkan duduk secara diplomasi mendakwakan Maduro sebagai gembong teroris Narkoba atau dalil-dalil yang lebih bermartabat, dan menyeretnya dibawah tekanan hukum Internasional.
Banyak solusi diplomatik bagi AS kalau ingin menjerat Maduro, namun itulah sikap Adidaya selalu merasa sebagai polisi dunia. Tampil sebagai pahlawan kemanusiaan. Alibi AS seperti itu terbaca transparan bagi negara non-sekutunya. Dunia berharap PBB mempelopori dan Indonesia menjadi negara Mediator-Independen proaktif dengan suara khas Presiden Prabowo, menggaungkan voting damai di perundingan internasional dengan AS dan Negara Venezuela.
Hak Veto negara besar, China, Rusia, Perancis, Inggris dan AS (walau terlibat) tetap bermakna untuk menggiring suara negara anggota PBB, agar membebaskan Venezuela dan Maduro dari intervensi dan invasi militer berkelanjutan dari AS.
Prabowo wajib mengawal intens politik bebas aktif Indonesia di mata Internasional, jika mau diperhitungkan dalam tatanan dunia Baru masa depan. Analis Berita; Narasumber Abdul Hakim.


