Sari Lorong Renungan Sufi
Sambungan dari artikel :
Sabar Atas Musibah, dalam Kacamata Sufi
Oleh : Abdul Hakim
Pertolongan terbesar bagi hamba Allah yang sabar atas bencana adalah kemuliaan langit dan kemuliaan syurga Husnul Khatimah.
Hikmah sabar atas takdir Allah dipetik dari dialog Sufi Syaikh Abu Yazid Al-Busthami dengan seekor anjing.
Abu Yazid senang malam-malam keluar dan mensyukuri indahnya ibadah taqarrub mendekatkan diri kepada Allah di keheningan. Beliau seorang sufi yang gemar merenung berzikir dan menolong sesama makhluk. Di suatu malam, bertemu seekor anjing yang mendekat dan mengibaskan ekornya ke jubah sang Syaikh.
Abu Yazid menarik dan meninggikan jubahnya. takut terkena najis anjing.
Anjing pun seakan bersuara didengar jelas oleh Syaikh.” Tuan Syaikh, takut terkena najis ekorku.Padahal badan dan buluku kering.Andai basah pun ada najisnya. Tinggal disucikan dengan tanah 7 kali.” Syaikh tertegun.
Anjing melanjutkan gumamnya,” jika Syaikh takut jubah karena najis tidak apa namun jika menganggap dengan menarik ke atas karena kemuliaan dari jubah Syaikh, dan saya lebih hina dari jubah Syaikh karena seekor makhluk anjing, itu bertanda Syaikh memuliakan diri dan hati, yang tidak bisa dicuci najis hati Syaikh dengan air sekalipun dari tujuh samudera”.
Abu Yazid makin tertegun. Mendengar desahan anjing itu. Lalu beliau mengajak bersahabat dengan anjing cerdas tersebut. Namun anjing itu pun menolak. dengan mengatakan orang-orang dan muridnya akan mencela mencemoohkan karena Syaikh berteman anjing yang hina. Syaikh pun tentu tidak akan dapat menahan hati. Kata anjing itu lagi, saya makhluk hina dan ditakdirkan Allah dengan bersabar menjadi miskin serta tidak membawa sepotong tulang pun, apalagi daging. Sedangkan Syaikh mulia, kaya masih memiliki sekarung gandum di rumah. Syaikh tidak mampu bersabar atas musibah najis, padahal semua hal ihwal bisa diatasi, apalagi najis ku ini, masih terlalu ringan sebagai musibah.
Akhirnya Abu Yazid tersungkur, sadar dan tercenung atas kebesaran Allah, memberi pelajaran lewat seekor hewan yang dihinakan manusia.
Allah mengajarkan ilmu tertinggi tentang kemuliaan dan kehinaan dalam tataran sufi dan ilmu tasawuf, bagi seorang waliyullah lewat makhlukNya yang hina.
Anjing mengajarkan sisi kemuliaan dan kehinaan. Anjing mencerahkan ilmu tentang sabar dalam setiap sesuatu dan mengambil ‘i’tibar (Pelajaran terdalam) atas setiap saripati ilmu keagunganNya. Sabar atas segala janji Allah walaupun dihinakan-Nya.
Sejak saat itu Abu Yazid tidak pernah lagi meninggikan jubahnya dan selalu makin tawadhu’ serta makin penolong terhadap makhluk.
Bisa saja kisah itu menjadi renungan kemanusiaan secara sufistik, bahwa setiap musibah bencana adalah kehinaan di sisi makhluk Sementara sangat mulia di sisi Allah karena sanggup menerima ujian seberat apapun dan sabar atas penderitaan itu, ikhlas hati dan fisik. Allah angkat derajat kesabaran di sisiNya Dengan Husnul khatimah dibalas syurga.
Fir’aun dan Qarun sangat mulia di sisi manusia, namun ditenggelamkan air laut dan ditelan bumi hidup-hidup dengan kemuliaan hartanya. Di akhirat keduanya dicampakkan Allah ke dalam api neraka yang paling hina.
Kehidupan adalah dinamika yang disikapi dengan lapang dada walau roda nafas terengah berada dibawah.namun putaran nasib berubah karena ke depan Rida akan naik ke atas suatu saat.
Bencana bagian dari dinamika dunia, bagi orang Sufi ada yang bersyukur mendapatkan mala petaka. Sedih tatkala dapat bencana. Mereka berada pada zona ruhani yang suci sehingga setiap nafas dan derap anggota tubuh selalu berhisab (menghitung) akan kebaikan amal saleh.Bukan amal salah. Tarikan nafas adalah ibadah. Hidup bermakna ganda dunia dan akhirat.
Sufi yang agung tidak merasa mulia, walaupun dengan jubah dan surban kebesaran. Bagi mereka keagungan kemuliaan lebih berat dipikul pundak daripada kepapaan dan kehinaan.
Bagi seorang pengamalan tasawuf dan tarekat menuju jalan Allah terdekat adalah dengan banyak ujian hidup. Semakin banyak ujian seseorang bisa mencapai master atau Doktor, dan sekolah tertinggi dalam kehidupan adalah ujian menjadi Khalifah dan Insan Kamil dalam makna seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.
Abu Yazid hidup dan wafat di era abad ketiga Hijriyah. Beliau seorang ulama sufi masyhur dan ahli tauhid hebat, yang banyak memberi pelajaran kehidupan ilmu batin ruhani kepada pengikutnya. Membersihkan berjuta hati yang kotor dengan deterjen kemuliaan zikir dan amal saleh, sebagaimana firman Allah : Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.Dia lah yang paling Mengetahui, tentang orang yang bertaqwa (Q.S.An.Najm- 32). Falaa Tazakku anfusakuum Huwa A’lamu Bimanittaqaa…
Allah Maha Suci dan mensucikan segenap makhluk-Nya.
Kehinaan pun bisa saja ditimpakan kepada siapa yang dikehendakNya.
Simpulan renungan sufi, segenap kisah kehidupan jadi guru yang mengajarkan, tanpa pamrih bagi yang merenung dan berakal.Oencetahan datang dari mana saja. Jangan pandang orang yang mengatakan, tapi lihatlah apa isi yang dia katakan.Itu lah kalimat Indah Khalifah Ali bin Abi thalib.
” Ilmu kebajikan ibarat keluar di mulut dan kata-kata seorang anak kecil atau orang gila sekalipun, kalau itu bermakna kebenaran hakiki ambil dan amalkan.
Ilmu tentang “kehidupan” bertebaran di langit dan di bumi, bagaikan buah yang matang dan harum. Tinggal dipetik dan makan (amalkan).
Bagian kedua habis. penulis H. Abdul Hakim, M.Ag. Dosen Ilmu Tasawuf dan Sufisme Kontemporer Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin.
Posted inNot Katagori

Sabar Atas Musibah, dalam Kacamata Sufi
