Bersabar Atas Bencana, dalam Kacamata Sufi

Sabar Atas Musibah dalam Kacamata Sufi

Artikel berkala (lorong Renungan Sufi)

Oleh : Abdul Hakim

Musibah terjadi di Indonesia yang secara beruntun kadangkala; berupa bencana alam, banjir longsor,

oplus_32

kekeringan, kebakaran di musim kemarau, gempa bahkan sunami melanda di hampir semua wilayah, sepanjang tahun. Belum lagi krisis lain sebagai bencana kemanusiaan. masalah kesulitan ekonomi, korupsi yang merajalela, persoalan dekadensi moral spiritual dan lain-lain dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang meninggalkan luka psikologis-sosial dan kerugian material finansial tidak sedikit yang ditanggung oleh masyarakat dan negara.

Berbagai peristiwa dimaksud dicermati sebagai satu respons tekno dan kebijakan bersama, sehingga yang terdampak akan dituntut wajib memiliki kedewasaan agama secara moral spiritual agar mampu bangkit, kuat dan mengambil hikmah atas setiap ujian yang dihadapi.

Pandangan awan musibah dianggap peristiwa negatif yang dihindari bahkan disesali.Senentara dalam tradisi ilmu tasawuf dipandang secara mendalam sebagai sarana pendidikan ruhani yang memiliki nilai tinggi. Dari sini muncul konsep sikap sabar.

Renungan perspektif bingkai sufi; tidak berarti menahan diri atau bertahan dalam penderitaan. Sabar dimaknai sebagai tindakan kemampuan jiwa dan fisik menerima ketentuan Allah berdasar kesadaran penuh ketundukan batin. Al-Qusyairi mendefinisikan “Sabar” sebagai menahan diri dari kegelisahan, mengekang lisan dari keluhan dan menjaga anggota tubuh dari perbuatan yang tidak diridhai Allah. Jadi jelasnya, Sabar menjadi konsep pembelajaran rohani psikologis sekaligus terapi yang menjadi sentral dalam membentuk jiwa Insan Kamil.

Mengoptimalkan makna sabar sebagai Amaliah rohani, pemikiran sekaligus menjunjung tinggi akhlak al-karimah secara komprehensif total sebagai kesalehan seorang hamba Allah.

Bersabar dalam Alquran di banyak ayat disetir sebagai serangkai dengan ibadah mulia lain seperti puasa, shalat, zakat menuntut sabar menahan haus, tidak tergesa, tidak merugikan orang lain, dan tindakan tercela apapun. Bahkan Rasul membuat satu ungkapan indah “Ash-Shabru Yu’inu ‘ala kulli amaliin”, sabar mesti akan siap menolong setiap tindakan.

Bencana dan musibah besar di negeri ini mutlak disikapi dengan sikap tindakan, dan dalam tindakan itu pertolongan baik dari Allah maupun sesama solidaritas kemanusiaan.(Bersambung). H.Abdul Hakim, M.Ag.Dosen Ilmu  Tasawuf dan Sufistik Kontemporer UIN Antasari Banjarmasin).