Solusi Banjir, Dampak Lingkungan Masa Depan

Solusi Banjir, Dampak  Lingkungan Masa Depan

BR-V || Banjir yang melanda sebagian besar Kalimantan Selatan, Sumatra dan Aceh merupakan bencana sudah setara darurat bencana, dalam kategori nasional, terutama Aceh-Sumatra.vWalaupun demikian pemerintah pusat enggan menyebutkan sebagai bencana alam nasional. Hal itu berbau politik karena bisa mengundang secara internasional untuk bantuan darurat bencana berimplikasi pada bantuan politik luar negeri secara geopolitik dan finansial. Itu pula sebabnya Presiden Prabowo Subianto tidak serta merta mengumumkan secara resmi kebijakan kenegaraan.

Selama ini bencana menjadi rentan sebagai isu politik bantuan terutama negara yang berkepentingan menanamkan pengaruh luar negeri seperti Amerika Serikat (AS),  Australia, Uni Eropa yang menjadikan isu bantuan sebagai balancing (imbal-balik) tebusan mahal politik.Kehati-hatian ini yang membuat Gubernur Aceh, Mualim agak risau, sehingga bantuan dari luar negeri mutlak melalui pemerintah pusat, juga dianggap sebagai perlambatan penangan bencana. Semua itu ada plus-minusnya.

Ruang bahasan analisis berita ini lebih mengkaji analisis solusi ke depan terhadap privintif atau pencegahan bencana, bukan sekadar nuansa politik keamanan negara semata. Solusi yang dimaksud adalah bencana sebagai bagian problem solving untuk mencari titik penyelesaian kebencanaan dan konteks “Banjir”, misalnya perlu kajian menyeluruh dan membongkar akar masalah fundamental. Solusi penguatan pondasi struktur lahan, reboisasi hutan pengembalian ruang, dan penghentian sementara pemanfaatan membabi buta semua tektur bumi Indonesia sebagai kebijakan darurat anti bencana Ini yang sangat penting. Sudah saatnya bumi Nusantara dikaji ulang untuk industri pertanian dan perkebunan berkelanjutan dalam penanaman hutan tropis, bukan hutan sawit dan alih fungsi industrial terutama pertambangan dengan segala hikuk-pikuknya. Saatnya Indonesia membuat solusi kebijakan anti bencana, sebagai green desain solusi cegah bencana. Pemulihan habitat alami lahan, menciptakan teknologi pemecah musim, di luar alamiah, dengan menciptakan teknologi tinggi memanfaatkan air hujan sebagai sumber mineral dan energi terbarukan, atau membuat industrialisasi hujan Es buatan untuk membekukan air hujan sebagai sumbu penciptaan alur zona musim salju, sehingga kebutuhan energi salju sebagai sumber kristal pengawet buatan bahan daging, sayur dll. Menjadi alih fungsi mineral hujan, yang dianggap sebagai ide alternatif membangun solusi dampak bencana ke depan dari keberlimpahan air hujan dalam wilayah penampungan untuk industri minel dan salju. Beberapa tawaran solusi ini perlu kajian spesifik keilmuan bagi pengelolaan iklim global.

Penulis Analis Abdul Hakim dan Abdul Hakim