Kejujuran, Keteguhan Moral, dan Tantangan Dakwah Perkumpulan Muballigh Batam dalam Membangun Ukhuwah Islamiah

Oleh : Dr. Nursalim Tinggi, S.Pd., M.Pd.
Humas Perkumpulan Muballigh Kota Batam
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain
Provinsi Kepulauan Riau

Kejujuran merupakan nilai fundamental yang tidak hanya membentuk integritas pribadi, tetapi juga menjadi pilar utama keberlangsungan dakwah Islam. Bagi seorang muballigh, kejujuran berfungsi sebagai modal sosial berupa kepercayaan yang menentukan efektivitas pesan dakwah di tengah masyarakat. Dakwah yang disampaikan secara retoris tanpa didukung konsistensi sikap dan perilaku akan kehilangan legitimasi moralnya. Oleh karena itu, kejujuran harus terwujud sebagai kesatuan antara niat, ucapan, dan tindakan dalam seluruh aktivitas dakwah Islam (Al-Ghazali, 2005: 52; Shihab, 2011: 89).

Dalam konteks Perkumpulan Muballigh Batam, kejujuran memiliki posisi strategis dalam menjaga marwah organisasi dan kewibawaan para dai di tengah masyarakat yang bersifat heterogen. Batam sebagai kota urban multikultural dihadapkan pada kompleksitas sosial yang mencakup perbedaan latar budaya, dinamika ekonomi, serta ragam orientasi pemahaman keagamaan. Kondisi ini menuntut para muballigh untuk tampil sebagai figur yang kredibel, bebas dari kepentingan pragmatis, serta konsisten menyuarakan nilai-nilai Islam yang inklusif dan rahmatan lil ‘alamin (Madjid, 2008: 134; Azra, 2013: 211).

Meskipun demikian, kejujuran dalam dakwah kerap diuji oleh berbagai bentuk godaan dan tekanan. Godaan materi, pencarian popularitas, serta kedekatan dengan kekuasaan dapat menjadi ujian serius bagi keteguhan moral seorang dai. Dalam perspektif Islam, ujian dipandang sebagai proses pembentukan kepribadian yang matang dan berintegritas. Ketika seorang muballigh mampu menjaga keteguhan moralnya, ia tidak hanya mempertahankan kehormatan pribadi, tetapi juga menjaga kemurnian dakwah dari reduksi kepentingan duniawi (Al-Qur’an, QS. Al-‘Ankabut: 2–3; Al-Ghazali, 2005: 311).

Tantangan dakwah semakin nyata ketika para muballigh menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar. Seruan kepada kebaikan tidak selalu memperoleh respons positif dari masyarakat, terutama ketika pesan dakwah dianggap mengganggu kenyamanan, tradisi lama, atau kepentingan tertentu. Penolakan, stigma negatif, hingga permusuhan merupakan risiko yang kerap menyertai perjuangan dakwah. Kondisi ini menuntut para muballigh untuk memiliki kesabaran, kedewasaan emosional, serta kemampuan menyampaikan dakwah dengan hikmah dan keteladanan moral (Ibn Taimiyah, 1998: 27; Qardhawi, 1996: 145).

Dalam situasi tersebut, Perkumpulan Muballigh Batam memegang peran penting sebagai wadah konsolidasi dan penguatan ukhuwah Islamiah antar dai. Perkumpulan ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang koordinasi program dakwah, tetapi juga sebagai sarana membangun solidaritas dan saling menopang dalam menghadapi tantangan dakwah. Ukhuwah yang dibangun atas dasar kejujuran dan ketulusan akan melahirkan semangat kebersamaan, saling menasihati dalam kebenaran, serta kesabaran dalam menghadapi perbedaan (Qardhawi, 2002: 78; Shihab, 2011: 201).

Selain itu, lingkungan pergaulan dan komunitas dakwah berperan signifikan dalam membentuk karakter muballigh yang istiqamah. Islam menegaskan bahwa individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Ketika para muballigh berada dalam komunitas yang menjunjung tinggi kejujuran, adab, dan akhlak mulia, nilai-nilai tersebut akan terinternalisasi dan tercermin dalam praktik dakwah sehari-hari. Sebaliknya, lingkungan yang permisif terhadap penyimpangan moral berpotensi melemahkan idealisme dan integritas dakwah (Al-Ghazali, 2005: 97; Madjid, 2008: 201).

Pada akhirnya, pembangunan ukhuwah Islamiah melalui dakwah tidak cukup dilakukan melalui retorika persatuan semata. Ukhuwah harus dirawat melalui keteladanan nyata, kejujuran yang konsisten, serta keteguhan moral para muballigh. Perkumpulan Muballigh Batam memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa dakwah tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam yang luhur, responsif terhadap tantangan zaman, dan berfungsi sebagai perekat persatuan umat. Dengan berpegang pada kejujuran dan istiqamah dalam menghadapi ujian, dakwah akan tampil sebagai kekuatan moral yang menumbuhkan harmoni sosial dan persaudaraan di tengah masyarakat Batam yang majemuk (Azra, 2013: 289; Qardhawi, 1996: 212).

Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Ghazali. 2005. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Azra, Azyumardi. 2013. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara. Jakarta: Kencana.
Ibn Taimiyah. 1998. Al-Amr bi al-Ma‘ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar. Riyadh: Dar al-‘Asimah.
Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
Qardhawi, Yusuf. 1996. Fiqh al-Da‘wah. Kairo: Maktabah Wahbah.
Qardhawi, Yusuf. 2002. Al-Sahwah al-Islamiyyah bayna al-Ikhtilaf al-Mashru‘ wa al-Tafarruq al-Madhmum. Kairo: Dar al-Shuruq.
Shihab, M. Quraish. 2011. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.