beritarepublik.viral— Hujan deras yang mengguyur kawasan Tajur Biru, Taman Gurindam 12, sekitar pukul 22.40 malam, Sabtu (22/11/2025), disertai tiupan angin kuat, membuat situasi kawasan itu berubah drastis dalam hitungan menit. Para pengunjung berlarian mencari tempat berteduh, sebagian terburu-buru menuju mobil dan motor mereka, sementara deretan pedagang UMKM tampak sibuk mengemas barang dagangan agar tidak rusak diterjang air dan angin.
Lampu-lampu di tepian Gurindam 12 berpendar di atas genangan air, memantulkan suasana panik yang tercipta mendadak. Tenda-tenda ringan milik pedagang bergoyang kencang, beberapa terpaksa ditahan manual agar tidak terangkat angin. Bagi para pedagang, malam itu bukan hanya ujian cuaca, tetapi juga pengingat keras bahwa keseharian mereka di kawasan ini selalu berjalan di antara risiko alam dan badai persoalan nonteknis.
“Itulah situasi saat alam menghendaki lain,” ujar seorang pedagang yang tengah menyelamatkan dagangannya ketika media ini menemui mereka. “Kami basah kuyup, Pak. Yang penting barang dagangan bisa kami selamatkan. Kalau rusak, habis modal kami.”
Namun, di balik terpaan hujan dan angin malam itu, para pelaku UMKM mengaku bahwa badai sebenarnya tak hanya datang dari langit. Mereka masih harus menghadapi persoalan laten: intrik provokatif antar oknum, pungutan liar, hingga ketidakpastian tata kelola kawasan yang belum sepenuhnya tertata.
“Sejujurnya yang kami hadapi bukan cuma angin dan hujan. Ada juga hal-hal lain, Pak… pungli dan macam-macam itu. Sistem belum berjalan bagus, aturan juga masih belum jelas,” tutur pedagang tersebut dengan nada lelah.
Sebagai salah satu pusat UMKM terbesar di Tanjungpinang, Gurindam 12 — khususnya zona Tajur Biru — masih berada dalam fase konsolidasi tata kelola menyusul peningkatan jumlah pedagang pascapandemi. Pemerintah telah menyampaikan rencana penataan besar, termasuk pembangunan sentra UMKM baru pada 2026. Namun, bagi para pedagang yang setiap hari berhadapan dengan badai cuaca, kompetisi lapak, serta persoalan pungli, kebutuhan mereka bersifat lebih mendesak: perlindungan nyata.
“Kami berharap pemerintah bisa lebih mengayomi kami. Kami butuh tempat berdagang yang layak, aman, dan nyaman. Kalau begini terus, kami selalu waswas,” ujar pedagang tersebut, menutup pembicaraan sambil kembali mengikat tenda yang hampir roboh.
Malam itu, Gurindam 12 menunjukkan dua wajahnya sekaligus: ruang publik yang selalu hidup, namun juga rapuh ketika cuaca ekstrem melanda. Para pedagang UMKM kembali membuktikan ketangguhan mereka, bertahan di tengah terpaan angin.
[ tim ]


