Beritarepublikviral.com//Jakarta, — Di tengah riuh rendah ibu kota, Auditorium Universitas YARSI berdiri tegak seolah tersenyum bahagia, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menyambut kedatangan putra-putri terbaik Minangkabau dari segenap penjuru dunia. Dinding-dinding ruangan seakan berbisik lirih, mengulang nama besar tanah kelahiran ini, dan udara pun terasa berdenyut kencang menyambut momen agung: pertemuan akbar Minang Diaspora Network-Global.
Di sini, pesan “Mufakat Ranah dan Rantau, Membangun Nagari, Menguatkan Jati Diri” tidak sekadar tertulis, melainkan hidup dan bernapas. Adat “Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” menari anggun di setiap sudut, mengingatkan kita bahwa jati diri kami tumbuh dari akar kearifan leluhur yang bersinar oleh cahaya agama. Tokoh-tokoh besar—menteri, gubernur, pemuka adat, ulama, budayawan, dan intelektual—berdiri berdampingan, seolah menjadi satu pohon besar: yang di ranah menjadi akar kokoh, yang di rantau menjadi dahan rimbun, saling merangkul agar teduh dan berkah senantiasa menyebar.
Sang mentari kebanggaan kami, para tokoh yang berjasa seperti Meuthia Hatta, Taufiq Ismail, Fauzi Bahar Dt.Sati, Buya Mas’ud Abidin, Tan Sri Rais Yatim, hingga Jurnalis Uddin, disambut dengan penghormatan setinggi langit. Kehadiran mereka seakan menjadi cahaya yang menerangi: bahwa jejak pemikiran, tulisan, dan keteguhan hati adalah warisan abadi yang tak lekang oleh waktu. Buku-buku sejarah dan sastra yang terpampang seolah berbicara lirih, “Ingatlah asal-usulmu, karena di sanalah kekuatanmu bersemayam.”
Alam pun ikut bersaksi: kasih sayang mengalir deras seperti sungai yang tak pernah berhenti, persaudaraan menyatu seakan ombak yang kembali ke laut, dan kebanggaan berdenyut kencang di dada setiap anak nagari. Acara ini terbuka lebar, merangkul semua kalangan, seakan berpesan: “Rumah ini milik kita semua, pintunya tak pernah tertutup bagi siapa pun yang rindu dan mencintai.”
Dan ketika pertemuan ini usai, pesan yang tertinggal menggema abadi: Di mana pun kaki melangkah, di ujung dunia sekalipun—Minang tetaplah rumah hati. Rantau mengajarkan kami berjuang, namun ranahlah yang mengajarkan kami mencintai. Membangun jati diri adalah kewajiban, mengangkat harkat nagari adalah kehormatan tertinggi.
Inilah wajah persaudaraan yang sejati: hidup, bernyawa, dan senantiasa menyentuh hati nurani manusia, mengingatkan kita bahwa di atas segala perbedaan, kita tetaplah satu keluarga besar Minangkabau, yang senantiasa berpaut pada kasih dan harapan yang tak pernah padam. (Laporan: Tb Mhd Arief Hedrawan)


